Minggu, 10 Mei 2009

Senin, 04 Mei 2009

Teladan nabi Elia di Zaman Monarkhi




Kata “nabi” dalam bahasa Ibrani berarti “orang yang dipanggil”. Nabi ditetapkan pada tempatnya, supaya dia boleh meneruskan kepada umat apa yang dikatakan Allah.

Istilah lain yang menunjuk pada seorang nabi, yaitu “ro’eh” atau “khozeh”, dua istilah yang sama (keduanya berarti “pelihat”). Istilah ini menunjukan bahwa oknum tersebut mula-mula terlibat dalam praktik nujum, yaitu usaha untuk menyelidik faktor-faktor yang tersembunyi di belakang masa kini mereka, atau menentukan masa depan umat mereka. Dalam Perjanjian Lama semua istilah itu dapat dipakai secara bergantian, walaupun 1 Samuael 9:9 memberi kesan bahwa pada periode awal, istilah “pelihat” biasanya menunjuk kepada oknum yang terkenal sebagai “hamba Allah”, dan yang didatangi oleh orang-orang yang memerlukan nasihat. [1]

Nabi-nabi istana adalah para penasehat dan penegur yang Allah utus dihadapan raja. Seperti halnya Samuel, para nabi istana adalah pelindung monarkhi, yang memastikan bahwa raja tidak menyimpang dari kovenan dan bahwa dia menggenapkan peran theokratisnya sebagai seorang gembala atas umat Allah. Mereka datang dengan kebenaran sejati dari Allah, berbicara mewakili Sang Raja yang Agung, Yahweh, dan tidak mencari pujian raja.[2]

Nabi muncul di saat krisis dan peringatan kesalahan yang dilakukan oleh raja maupun bangsa Israel dihadapan Tuhan. Tindakan Allah demi kepentingan umatNya ini, melibatkan pilihan ada panggilan Allah kepada seseorang yang telah diperlengkapi dan berkenan dihadapanNya.[3]

Elia adalah nabi yang hadir di Israel di zaman pemerintahan Raja Ahab (874-853) dan Ahazia (853-852). Namanya Ibrani ‘elliyahu atau ‘eliyya, Yunani Eleiou (LXX) atau Elias (PB) berarti ‘Yah-lah EL’ atau ‘YHWH-lah Allah’.[4] Kehadiran nabi Elia yang dikehendaki Tuhan, di sebabkan karena ketidaktaatan raja Ahab pada Tuhan yang melebihi raja-raja Israel sebelumnya dan mengambil Izebel, anak Etbaal,

raja orang Sidon, menjadi istrinya, sehingga ia pergi beribadah kepada dan sujud menyembah Baal (1 Raja-raja 16). Dalam pemerintahan raja Ahab juga, Hiel orang Betel diijinkan membangun kembali tembok Yerikho yang dilarang dan dikutuk oleh Yosua bin Nun (Yosua 6:26). Ahab banyak melakukan tindakan-tindakan yang menimbulkan sakit hati Tuhan, melebihi raja-raja yang mendahuluinya yaitu mengikuti teladan buruk Yerobeam bin Nebat serta membuat patung Asyera.

Elia adalah seorang peternak asal dari Tisbe di Gilead. Ia adalah nabi yang mengadakan perlawanan terhadap status kemutlakan raja. Pemberontakan agamani yang dia pimpin, secara prinsip telah menghancurkan kewibawaan raja. Dia menjelajahi seluruh negeri Israel, berkhotbah dimana-mana melawan sikap Raja Ahab. Elia adalah oknum penting dan merupakan nabi besar yang pertama dalam priode kerajaan. [5] Elia melawan ketidak-adilan dan pelanggaran hukum yang dilakukan Izebel yang telah dibenarkan oleh Raja Ahab.

Izebel melanggar hak-hak pribadi Nabot, petani dari Yizreel. Pemfitnahan yang mengakibatkan kematian Nabot adalah perencanaan yang dilakukan oleh Izebel karena Nabot tidak menjual dan memberikan pusaka nenek moyangnya (kebun anggur) kepada raja Ahab. Sebelum Elisa penggantinya menggantikan dia, Elia merupakan nabi Israel yang di muncul saat pemerintahan raja Ahab (874-853), Ahazia bin Ahab (853-852) dan Yoram (852-841) dalam 2 Raja-raja:1:17, sesaat sebelum Elia naik kesorga dengan kereta dan kuda berapi dalam angin badai. Pada zaman itu, bangsa Yehuda dipimpin oleh raja Yosafat (870-849), Yoram bin Yosafat (848-842).

Ketika Ahazia sakit, dia tidak pergi meminta petunjuk kepada Tuhan, tetapi kepada Baal, oleh sebab itu Elia menegur dia dan menyampaikan hukuman kematian dari Tuhan yang akan terjadi padanya. Ternyata hal itu bukan menjadi suatu kesadaran dan pertobatan bagi Ahazia, melainkan dia memerintahkan panglima dan anak buahnya untuk membunuh Elia. Usaha Ahazia untuk membunuh Elia gagal, sebaliknya Ahazia mati karena dosa yang dia lakukan pada Tuhan (2 Raja-raja 1).

Panggilan yang dikerjakan Elia untuk dipakai Tuhan, tetap setia dia jalani walau sering mengalami hal yang tidak menyenangkan karena bertolak belakang dengan kehendak dan kemutlakkan raja. Beberapa hal telah menunjukkan bahwa Elia adalah seorang hamba Tuhan yang baik yang menjadi teladan seorang nabi :

  1. Ia mendengarkan dan patuh akan perkataan Allah .

Penyataan Allah yang secara langsung kepada Elia, menunjukkan kelayakkannya terhadap Allah (1 Raja-raja 17: 2, 8; 18:1; 19:9; 19:13; 19:15-18 dan 2 Raja-raja 1:3-4; 1:15). Ia sangat patuh kepada setiap perintah Allah 1 Raja-raja 17:3-4; 17:9-10; 18:36. Sikap kepatuhan Elia terbukti saat dia tetap setia pada perintah Tuhan untuk bergerak walau dia harus menunggu hingga 3 tahun (1 Raja-raja 18:1).

  1. Ia bertindak dengan berani menentang kejahatan.

Elia berbicara dengan jelas dan berani menyatakan kesalahan raja Ahab dan keluarganya karena telah meninggalkan perintah-perintah Tuhan dan mengikuti para Baal (1 Raja-raja 18:18). Walaupun sendiri, Elia berani menghadapi empat ratus lima puluh nabi-nabi Baal (1 Raja-raja 18:22) dan menyembelih mereka di sungai Kison (1 Raja-raja 18:40).

Elia menentang Realpolitik. Oposisinya terhadap Ahab sama seperti Samuel terhadap Saul, namun lebih menegangkan, sebab di gunung Karmel, Elia berdiri melawan bangsa itu secara keseluruhan. Setelah pertandingan antara religi dan penyataan di gunung Karmel, Elia menyadari bahwa pengakuan populer bahwa Tuhan adalah Allah.[6]

  1. Ia memiliki otoritas Allah.

Tuhan mendengarkan permintaan Elia sehingga membangkitkan anak janda Sarfat (1 Raja-raja 17:22). Otoritas ilahi yang Elia peroleh atas kehendak Allah, membuat bangsa Israel tidak mengalami hujan selama tiga tahun karena dosa bangsa Israel (1 Raja-raja 17:1). Ucapan Allah atas perantaraan Elia, menyebabkan tepung dan minyak janda Sarfat tidak pernah habis (1 Raja-raja 17:16).

Penggenapan nubuatan hukuman Tuhan bagi Ahab dan keluarganya melalui nabi Elia membuktikan bahwa Elia memiliki otoritas Allah. Kutukan Allah melalui perantaraan nabi Elia (1 Raja-raja 21:19) atas kematian Ahab dilakukkan oleh satu roh yang bersedia menjadi roh dusta untuk masuk dalam mulut semua nabi-nabi Ahab agar Ahab bisa dibujuk keluar untuk berperang dan mati dalam peperangan. Roh ini di perintahkan TUHAN agar kematian menimpa Ahab (1 Raja-raja 22:21-23). Walaupun adanya bantuan Yosafat raja Yehuda pada Ahab raja Israel, tetapi peperangan yang melawan bangsa Aram itu telah membuat Ahab mati dalam peperangan meski ia melakukan penyamaran. Ahab mati sesuai dengan perkataan TUHAN yang disampaikan melalui nabi Elia yaitu darahnya dijilat oleh anjing. Penggenapan kutukan Elia atas kematian Izebel (1 Raja-raja 21:23) pun terjadi disaat Yehu menjadi raja atas Israel (Raja-raja 9:30-37). Setelah membunuh Yoram bin Ahab raja Israel dan Ahazia bin Yoram raja Yehuda, maka Yehu memiliki kekuasaan yang dapat memerintahkan pembesar Samaria untuk memunahkan seluruh keluarga Ahab sesuai dengan firman diucapkan Tuhan kepada Elia (2 Raja-raja 10:1-17).

  1. Ia penuh belas kasihan.

Elia memiliki belas kasihan bagi janda Sarfat yang kehilangan anaknya sehingga ia berdoa pada Tuhan untuk membangkitkan anak janda Sarfat (1 Raja-raja 17: 20). Menyelamatkan nyawa Obaja yang adalah kepala istana raja Ahab karena permohonannya akan belas kasihan Elia agar menemui Ahab (1 Raja-raja 18). Elia pun menyelamatkan nyawa seorang perwira beserta lima puluh orang hambanya utusan Ahazia yang ketiga sehingga mereka tidak mati kena api yang turun dari langit.(2 Raja-raja 1:9-14).

  1. Ia memegang perkataan dan menepati janji.

Perkataan dan janji Elia kepada Obaja kepala istana raja Ahab, ditepati karena dia dengan berani menghadap raja Ahab (1 Raja-raja 18:15).

  1. Ia selalu dijagai Tuhan.

Burung gagak yang rakus terhadap makanan yang adalah burung pemakaan bangkai, Tuhan pakai untuk memberi makan Elia sebagai bukti bahwa Tuhan bisa menjagai dia melalui hal-hal yang mustahil (1 Raja-raja 17:4-6). Allah pun tidak selalu memakai alat-alat bantu yang kita ingini dan tidak kita duga, seperti seorang janda bisa menjadi penolong bagi Elia (1 Raja-raja 7:16). Kepedulian Tuhan pun dinyatakan melalui Malaikat TUHAN yang secara langsung memberi Elia makan (1 Raja-raja 19:5-8).

  1. Ia rendah hati dan mempunyai kepercayaan penuh terhadap Allah.

Elia tidak merasa tersaingi saat Tuhan menghendaki untuk mengurapi Elisa sebagai penggantinya. Malahan dia terlebih dahulu mengurapi Elisa sebagai nabi Allah sebelum mengurapi raja lainnya (1 Raja-raja 19:15-16). Elia tetap gigih dan tetap berharap pada jawaban Allah walaupun bukan langsung di peroleh dengan sekali permintaan atau jawaban doa (1 Raja-raja 18:37: 18 41-45).

“Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan tidak turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun enam bulan” (Yakobus 5:17). Yakobus tidak berkata, “Elia adalah nabi Allah yang berkuasa.” Dia tidak berkata, “Elia adalah seorang pekerja yang berkuasa untuk melakukan mujizat.” Dia tidak berkata, “Elia adalah suatu contoh yang tidak dapat disamai siapa pun.” Yakobus berkata, “Elia adalah manusia biasa sama seperti kita.” Itu berarti bahwa ia terdiri dari darah dan daging, otot dan tulang. Seperti yang kita lihat, dia pernah terluka, dia pernah kecewa dengan dalam. Dia memiliki kesalahan dan kegagalan dan keraguan. Dia hanya manusia biasa, sama seperti anda dan saya. Dia mungkin memiliki sifat kepahlawanan dan kerendahan hati, tetapi jangan pernah lupakan kemanusiaannya. Elia sama seperti kita![7] Selain dari teladan baik yang dimiliki Elia, ia pun memiliki beberapa kekurangan antara lain :

o Kehilangan kepercayaan akan penyertaan Tuhan.

Karena Izebel tidak mengaku kalah atas peristiwa yang terjadi di atas gunung Karmel. Ia ingin membalas dendam terhadap Elia. Elia mengalami keputusasaan dan berpendapat bahwa ia sudah tidak memiliki ada harapan lagi baginya sebab itu dia pergi ke padang gurun. Elia takut dan ingin mati disana (1 Raja-raja 19:3). Akan tetapi dia dipanggil untuk bertemu Tuhan di gunung Horeb dimana Tuhan memanggil Musa dan menerima penyataan dan kemuliaan Tuhan. Disana dia malahan diberi kekuatan dan kepercayaan untuk menerima tiga perintah pelayanaan dari Tuhan, yaitu :

1. Mengurapi Hazael menjadi raja Siria.

2. Mengurapi Yehu menjadi pengganti Ahab.

3. Mengurapi Elisa menjadi penggantinya sendiri.

o Kegagalan dalam kepemimpinan.

Demi menyelamatkan nyawanya, dia pergi sendiri meninggalkan bujangnya (1 Raja-raja 19:3). Hal ini bukan mencerminkan tindakan pemimpin yang baik.

o Kegagalan dalam kesabaran.

Setelah membunuh nabi-nabi Baal, kembalinya Elia ke gunung Horeb menandai berakhirnya satu era yang dicirikan oleh kesabaran ilahi, dan awal dari era baru yang ditandai oleh purifikasi. Israel telah menunjukkan dirinya sebagai suatu bangsa yang hatinya dikeraskan oleh ketidakpercayaan. Situasi telah berubah secara dramatis dari masa di mana Musa berulang kali bersyafaat demi Israel. Tidak seperti Musa, yang bersyafaat demi Israel (Keluaran 31-34), Elia menuduh umat Allah atas ketidaksetiaan mereka. Hari-hari kesabaran Allah mendekati akhir. Era baru segera tiba.[8]

Setiap apa yang dialami Elia adalah sepengetahuan Allah, karena itu Allah selalu tahu cara menghadapi hambaNya yang sedang tertekan (1 Raja-raja 19:1-18). Dalam Surat Paulus kepada jemaat di Roma, mengatakan bahwa pemberitaan dan pengaduan Elia pada Allah karena bangsa Israel telah meninggalkan ketetapan-ketetapan Allah, tidak membuat Allah menolak umat-Nya. Akan tetapi, Allah meresponi pengaduan Elia dengan menjawab bahwa Ia masih meninggalkan tujuh ribu orang yang masih taat pada-Nya yang tidak pernah sujud menyembah Baal (Roma 11:2-4).

Hal ini membuktikan bahwa meski adanya para nabi yang diutus-Nya untuk memperingatkan Umat-Nya dari segala dosa yang mendatangkan hukuman dan murka bagi umat-Nya, tetapi kasih karunia Allah selalu tidak pernah berakhir untuk umat pilihan-Nya.


[1] TH..C.VRIEZEN. Agama Israel kuno (BPK), 221

[2] Willem A. Van Geremen. Penginterpretasian Kitab Para Nabi. Penerbit Momentum, 37

[3] Dr. C. Barth, Theologia Perjanjian Lama 4 (BPK), 13

[4] Ensiklopedi Alkitab Masa Kini jilid I A-L, YKBK, 275

[5] TH..C.VRIEZEN. Agama Israel kuno (BPK), 203

[6] Willem A. Van Geremen. Penginterpretasian Kitab Para Nabi. Penerbit Momentum, 41

[7] Charles R Swindoll, Pria heroik dan rendah hati ELIA, CIPTA OLAH PUSTAKA, 148

[8] Willem A. Van Geremen. Penginterpretasian Kitab Para Nabi. Penerbit Momentum, 25